Sekilas TentangPeoples' Conservation Summit
Peoples' Conservation Summit (PCS) atau Temu Akbar untuk Konservasi Rakyat merupakan konferensi kolaboratif yang diselenggarakan oleh WGII bersama koalisi sebagai ruang dialog lintas pemangku kepentingan untuk membahas berbagai isu strategis terkait pengelolaan keanekaragaman hayati di Indonesia dengan menempatkan rakyat sebagai subjek utama penyelenggaraan sekaligus narasumber utama.
Melalui pendekatan partisipatif, lintas pengetahuan, lintas isu, dan berbasis hak, PCS mempertemukan Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal, petani, nelayan, perempuan, generasi muda, akademisi, pakar, pemerintah, organisasi masyarakat sipil, media, sektor filantropi, dan berbagai mitra pembangunan untuk mendialogkan pengalaman masyarakat, pengetahuan ilmiah, dan proses kebijakan. Dari proses tersebut, PCS mendorong lahirnya pengetahuan bersama serta rekomendasi kebijakan yang lebih inklusif dan berkeadilan.
Latar BelakangMengapa Peoples' Conservation Summit Penting?
Konservasi Lebih Dulu Hidup dalam Nadi Masyarakat
Di seluruh Indonesia, Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal telah menjaga hutan, sungai, pesisir, laut, dan berbagai bentang alam lainnya melalui sistem pengetahuan, nilai budaya, serta tata kelola yang diwariskan lintas generasi. Praktik seperti Leuweung Titipan, Tana' Ulen, Sasi, maupun Awig-awig menunjukkan bahwa konservasi bukanlah konsep baru. Konservasi telah lama hidup sebagai bagian dari cara masyarakat merawat alam dan ruang hidupnya.
Namun, kontribusi tersebut masih belum sepenuhnya diakui dalam sistem konservasi nasional. Meski masyarakat terbukti berperan kunci dalam menjaga keanekaragaman hayati, banyak wilayah kelola masyarakat yang masih menghadapi ketidakpastian tenurial, tumpang tindih perizinan, pembatasan akses. Akibatnya, wilayah kehidupan mereka semakin terancam, termasuk keberlangsungan pengetahuan tradisional yang telah diwariskan lintas generasi.
Lemahnya pengakuan dan perlindungan terhadap hak Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal juga membuka ruang bagi penyalahgunaan pengetahuan tradisional dan sumber daya genetik. Dalam banyak kasus, pengetahuan tradisional tersebut dikumpulkan, diteliti, bahkan dikomersialisasikan tanpa persetujuan dari pemegang pengetahuan, tanpa pengakuan atas asal-usul pengetahuan tersebut, serta tanpa mekanisme pembagian manfaat yang adil.
Di saat yang sama, tekanan terhadap keanekaragaman hayati terus meningkat akibat perluasan industri ekstraktif, perubahan tata guna lahan, dan berbagai model pembangunan yang belum menempatkan Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal sebagai pemegang hak sekaligus pengelola utama ruang hidupnya.
Hadir untuk menjawab tantangan besar:
- 1
Apakah pemaknaan konservasi dan kebijakannya di Indonesia hari ini, sudah tepat? Upaya apa yang perlu dibangun agar kebijakan konservasi bersesuaian dengan nilai kebudayaan Indonesia?
- 2
Kebijakan dan regulasi apa yang perlu direformasi untuk mengakhiri warisan fortress conservation yang masih meminggirkan Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal dari wilayah konservasi?
- 3
Bagaimana pengetahuan tradisional dan sistem ekologis masyarakat dapat diakui, diintegrasikan sebagai dasar pengambilan keputusan, riset dan pengembangan teknologi dalam pengelolaan keanekaragaman hayati?
- 4
Bagaimana kebijakan pembangunan, industri ekstraktif, dan ekonomi hijau dapat dikaji ulang agar tidak mempercepat hilangnya wilayah dengan keanekaragaman hayati tinggi yang dijaga masyarakat?
- 5
Apa yang bisa dilakukan untuk memastikan Masyarakat Adat dan Komunitas lokal sebagai pemilik pengetahuan knowledge holders menerima manfaat dari skenario konservasi dan pengembangan ekonomi berbasis keanekaragaman hayati?
Advokasi dan KampanyeRoad to COP17 UNCBD
Peoples' Conservation Summit (PCS) merupakan bagian dari rangkaian advokasi dan kampanye #RoadtoCOP17CBD menuju COP17 Convention on Biological Diversity (CBD) di Armenia pada Oktober 2026. Lebih dari sekadar konferensi, PCS menjadi ruang kolektif untuk menghimpun pengetahuan, praktik baik, dan aspirasi Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal dari seluruh Indonesia.
Melalui proses ini, PCS akan menghasilkan komitmen bersama dan rekomendasi kebijakan untuk memperkuat implementasi KM-GBF dan Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) serta Local Biodiversity Outlook (LBO) Indonesia sebagai laporan pelengkap (complementary report) yang mendukung pelaporan implementasi Kunming–Montreal Global Biodiversity Framework (KM-GBF) Indonesia kepada Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD). Hasil tersebut sekaligus menegaskan kontribusi Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal dalam menjaga keanekaragaman hayati melalui pendekatan konservasi yang adil, inklusif, dan berbasis hak.
Meningkatkan pemahaman dan kesadaran publik serta para pemangku kepentingan tentang pentingnya peran Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal, termasuk perempuan, pemuda, dan kelompok rentan, dalam menjaga keanekaragaman hayati dan mengatasi krisis iklim. Upaya ini dilakukan dengan mengangkat praktik, pengetahuan tradisional, dan tata kelola berbasis komunitas yang telah terbukti telah terbukti efektif.
Mendorong dialog lintas aktor antara pemerintah, Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal, akademisi, organisasi masyarakat sipil, lembaga donor, dan sektor swasta untuk memperkuat kolaborasi dalam implementasi Kunming–Montreal Global Biodiversity Framework (KM-GBF), khususnya target-target yang berkaitan dengan hak dan partisipasi Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal.
Mengidentifikasi hambatan dan peluang implementasi pengakuan wilayah adat, tata kelola berbasis komunitas, serta integrasi pengetahuan tradisional ke dalam kebijakan konservasi dan aksi iklim nasional maupun daerah.
Mendorong integrasi pendekatan ilmiah dan berbasis hak (science-based & rights-based approach) dalam kebijakan dan praktik konservasi, dengan mengakui pengetahuan lokal sebagai bagian dari ilmu pengetahuan yang sah dan relevan.
Membangun komitmen dan peta jalan untuk memperkuat pengakuan, perlindungan, dan pendanaan bagi masyarakat adat dan komunitas lokal dalam kerangka implementasi KM-GBF, Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP), serta kebijakan iklim nasional (NDCs).
Mempertunjukan pembelajaran baik/collective contribution Indonesia dalam implementasi KM-GBF dan IBSAP dalam forum COP-17 UNCBD.
Agenda Utama PCS 2026
1 September
| Waktu (WIB) & Lokasi | Acara | Pembicara |
|---|---|---|
| 07.00—08.00 Ruang Registrasi | Registrasi Peserta dan Panelis | |
| 08.00—08.30 Ruang Joglo | Pembukaan Peoples' Conservation Summit | |
| Waktu & Lokasi 08.30—09.00 Ruang Joglo | Acara Pengantar dan Sambutan | Pembicara Cindy Julianty Koordinator Eksekutif Working Group ICCAs Indonesia Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D Rektor Universitas Gadjah Mada Q Apaj Conde Choque CBD Secretariat Dr. Abd Muhaimin Iskandar Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat |
| 09.00—09.30 Ruang Joglo | Peresmian Kegiatan Peoples;' Conservation Summit (PCS) 2026 ditandai dengan Pemukulan Gong | |
| Waktu & Lokasi 09.30—11.00 Ruang Joglo | Acara Dialog Publik: “Konservasi Rakyat untuk Indonesia: Membangun Paradigma Tata Kelola Keanekaragaman Hayati yang Berkeadilan” | Pembicara Rukka Sombolinggi Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Devi Anggraini Ketua Umum Perempuan AMAN Cindy Julianty Koordinator Eksekutif Working Group ICCAs Indonesia Putu Ardana Masyarakat Adat Dalem Tamblingan di Catur Desa, Provinsi Bali Filo Gratiadeo Karundeng Anggota Dewan Barisan Pemuda Adat Nusantara Budin Purnomo Sidi Masyarakat Adat Dayak Simpakng Banua Sajatn Moderator: Dr. Eko Cahyono, M.Si. Staf Manajemen Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan, IPB University / Peneliti Sajogyo Institute |
| 11.00—11.15 | Persiapan Diskusi Panel - Paralel | |
| 11.15—13.00 | Paralel: Panel Konservasi Rakyat (Sesi Pagi) | |
| Waktu & Lokasi Ruang Tembawang | Acara Sistem Pengelolaan dan Perlindungan Wilayah Kehidupan: ICCAs, Tata Ruang, dan Restorasi Berbasis Masyarakat | Pembicara Dr. Ir. Arzyana Sunkar, M.Sc. Sekretaris Program Studi Pasca Sarjana Konservasi Biodiversitas Tropika (KVT), IPB University Yulia Sugandi, Ph.D. Peneliti Future Earth Jesica Kiara Agumanis Forum Nelayan Pesisir Pantai Malalayang, Komunitas Kinamang Dr. Griven Herrie Putera Datuk Sati Diraja, Masyarakat Rantau Baru Maman Sahroni Masyarakat Adat Kasepuhan Pasir Eurih Dr. Rizdky R Sigit Direktur Program Mongabay Indonesia |
| Waktu & Lokasi Ruang Tana' Ulen | Acara Kepemimpinan Masyarakat dalam Pengelolaan dan Pemantauan Wilayah Adat dan Wilayah Kelola Rakyat (Community Led Monitoring) | Pembicara Noer Fauzi Rachman, Ph.D. Dosen Psikologi Komunitas, Fakultas Psikologi, Universitas Padjadjaran Dony Hendro Cahyono, S.H., M.H. Dosen / Staf Akademik Fakultas Hukum, Universitas Gadjah Mada (UGM) Tati Rahmawati Forum Konsolidasi dan Advokasi Wilayah Adat Lebak Kasepuhan Luckyto Siabeng Wakil Ketua Pejuang Muda Wija To Cerekang Azir Ketua Lembaga Pengelolaan Konservasi Desa Pakuli Utara, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah Yu' Sukinah Kartini Kendeng Mufti Fathul Barri Magister Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan, Universitas Gadjah Mada |
| Waktu & Lokasi Ruang Lubuk Larangan | Acara Perempuan, Generasi Muda, dan Konservasi | Pembicara Dr. Mia Siscawati, Ph.D. Ketua Program Studi Kajian Gender, Sekolah Kajian Stratejik dan Global, Universitas Indonesia Sri Wiyanti Eddyono, S.H., LL.M.(H.R.), Ph.D. Ketua Program Studi Magister Hukum Litigasi, Fakultas Hukum, Universitas Gadjah Mada Alexander Sesa Pemuda Adat Nasfa Wehali, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat Daya Debora Rambu Kasuatu Masyarakat Adat Anakalang, Kabupaten Sumba Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Timur Sisilia Jenuai Masyarakat Adat Punan Uhengk Kereho, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat Diantika Rindam Floranti, S.H., LL.M. Dosen dan Peneliti Departemen Hukum Pidana, Fakultas Hukum, Universitas Gadjah Mada |
| Waktu & Lokasi Ruang Sasi | Acara Politik Pengelolaan Ruang Pangan Komunitas | Pembicara Dr. Laksmi Adriani Savitri, M.Si. Direktur Eksekutif Center for Restoration and Regeneration Studies Ahmad Arif Jurnalis Senior dan Kolumnis, Harian Kompas (Kompas Gramedia Group) Devianti Sesa Perempuan Adat Nasfa Wehali, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat Daya Mangitua Ambarita Masyarakat Adat Lamtoras, Keturunan Ompu Mamontang Laut Ambarita Baderi Masyarakat Adat Dayak Meratus Tri Ismuiyati Koperasi Produsen Berkah Laut Sejahtera, Desa Bandungharjo, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah Moderator: Dr. Zuhdi Siswanto, M.Hum. Peneliti / Alumnus Doktor Kajian Budaya, Universitas Sanata Dharma |
| 13.00—13.30 | ISHOMA dan Persiapan Side Event | |
| 13.30—14.30 | Paralel Side Events | |
| Waktu & Lokasi Ruang Joglo | Acara Pemutaran Film: Merayakan Keanekaragaman Hayati | Pembicara REKAM Nusantara |
| Waktu & Lokasi Ruang Tembawang | Acara Panduan Pelibatan Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal dalam Perencanaan Sektor Lingkungan Hidup: Pembelajaran dari Penyusunan Rencana Induk Pengelolaan Keanekaragaman Hayati di Empat Provinsi | Pembicara Pusako Bappenas GIZ |
| Waktu & Lokasi Ruang Sasi | Acara Kedaulatan Tenurial di Kawasan Konservasi: Menggugat Eksklusi Taman Nasional dan Menegaskan Hak Atas Ruang Hidup Masyarakat Adat | Pembicara Yayasan PIKUL |
| Waktu & Lokasi Ruang Tana' Ulen | Acara Memetakan Peluang Pendanaan Kehati dari Instrumen Keuangan Publik | Pembicara Greenpeace |
| Waktu & Lokasi Ruang Lubuk Larangan | Acara Curated Film Screening: Biocultural In Motions - Indigenous Peoples and Conservation in Indonesia | Pembicara Badan Registrasi Wilayah Adat (BRWA) |
| 14.30—15.00 | Rehat dan Transisi Side Event ke Sesi Panel Paralel | |
| 15.00—17.00 | Paralel: Panel Konservasi Rakyat (Sesi Siang) | |
| Waktu & Lokasi Ruang Sasi | Acara Pengelolaan Perairan dan Perikanan | Pembicara Dr. Akhmad Solihin, S.Pi., M.H. Wakil Kepala Bidang Program Sosial Ekonomi dan Kelembagaan, Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan, IPB University Dr. James Abrahamsz, S.Pi., M.Si. Kepala Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran, Universitas Pattimura Bona Bedding Jaringan Pemangku Hak Areal Konservasi Kelola Masyarakat Region Nusa Tenggara Kliff Kissya Masyarakat Adat Negeri Haruku, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku Kurniawan Effendi Masyarakat Adat Gajah Bertalut, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau Katarina Komunitas Nelayan Pulau Solor, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur Fitria Nurhayati A Activation & Impact Assistan Manager Katadata Green |
| Waktu & Lokasi Ruang Tembawang | Acara Pengetahuan Tradisional dan Kearifan Lokal terkait Kesehatan dan Pengobatan Masyarakat Adat | Pembicara Dr. Ruliyana Susanti, M.Si. Peneliti Ahli Ekologi Tumbuhan / Sekretaris Eksekutif Sekretariat Otoritas Ilmiah Keanekaragaman Hayati, Badan Riset dan Inovasi Nasional Prof. apt. Muhammad Sulaiman Zubair, S.Si., M.Si., Ph.D. Guru Besar Program Studi Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Tadulako Dr. Sofa Fajriah, M.Si. Kepala Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional, Badan Riset dan Inovasi Nasional Damidi Suku Baduy, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten Aria Sakti Handoko Kepala Divisi Advokasi, Riset, dan Kemitraan, Badan Registrasi Wilayah Adat Ninik Darsah Mak Raji Dayeuhluhur, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah Agustinus Momo Suku Myah, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat Daya |
| Waktu & Lokasi Ruang Tana' Ulen | Acara Pariwisata Berbasis Ekologi dan Masyarakat | Pembicara Dr. Ir. Nandi Kosmaryandi M.Sc.F.Trop. Dosen dan Peneliti Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, IPB University Marlon Arthur Huwae, S.S., M.EMD., M.Res., Ph.D. Dekan Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Papua Torry Kalami Masyarakat Adat Moi, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya I Wayan Wardika Desa Taro, Sebatu Bali Soim Desa Wisata Margoretno, Menoreh, Yogyakarta Elki Setiyo Hadi Deputi Direktur Eksternal Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Yogyakarta |
| Waktu & Lokasi Ruang Lubuk Larangan | Acara Pengembangan Sumber Penghidupan Berkelanjutan (Livelihood) melalui Strategi dan Mitigasi Pengembangan Ekonomi Lokal | Pembicara Angga Dwiartama, S.Si., M.Si., Ph.D. Lektor Kepala dan Wakil Dekan Bidang Sumber Daya, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, Institut Teknologi Bandung Dr. Hikma Yanti, S.Hut., M.Si. Lektor Kepala Fakultas Kehutanan, Universitas Tanjungpura Grachella Desa Panjoka, Kecamatan Pamona Utara, Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah Sutarya Kasepuhan Cicarucub, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten Rosina Kesatuan Perempuan Pesisir Indonesia Surabaya Ayip Said Abdullah Direktur Pelaksana Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan |
| 17.00—17.30 Ruang Joglo | Penutupan | |
Linimasa Penting
1 - 30 Juli 2026
1 Juli - 10 Agustus 2026
1–3 September 2026
September – 16 Oktober 2026
16–30 Oktober 2026
Skala dan JangkauanCakupan Konferensi
Ikut SertaAmbil Bagian dalam Peoples' Conservation Summit
Berkontribusi dalam Local Biodiversity Outlook (LBO)
Local Biodiversity Outlook (LBO) Indonesia merupakan salah satu keluaran PCS yang akan disampaikan pada COP17 CBD sebagai laporan pelengkap mengenai kontribusi Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal (MA & KL) terhadap implementasi KM-GBF dan IBSAP. Kami mengundang seluruh pihak untuk membagikan pengalaman, praktik baik, pengetahuan lokal, serta inisiatif MA & KL dalam menjaga keanekaragaman hayati dengan menjadi kontributor LBO Indonesia.
Menjadi Kolaborator dan Peserta
PCS dibangun melalui kolaborasi multipihak. Kami membuka ruang bagi organisasi masyarakat sipil, Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal, perguruan tinggi, lembaga riset, pemerintah, media, filantropi, dan mitra pembangunan untuk berpartisipasi sebagai mitra penyelenggara, knowledge partner, media partner, supporting partner, maupun peserta.
Menyelenggarakan Side Event dan Learning Fair
PCS menyediakan ruang bagi organisasi, komunitas, dan lembaga untuk berbagi pengalaman, hasil penelitian, produk pengetahuan, karya kreatif, inovasi sosial, serta praktik baik yang mendukung konservasi berbasis masyarakat. Informasi lebih lanjut untuk pendaftaran dan keterlibatan di side event dan pameran dapat menghubungi informasipcs@gmail.com dan cc to: ihsan@iccas.or.id.









































































































