COMING SOON

Peoples' Conservation Summit 2026

DEKOLONISASI KONSERVASI

Menegaskan Kedaulatan Rakyat Atas Pengetahuan dan Tata Kelola Keanekaragaman Hayati di Indonesia

#DecolonizingConservation #PeopleConservation

Marko Mahin

Marko Mahin

Coordinator JPH AKKM

Subhan Fajri

Subhan Fajri

Sumatra

Dolvina Damus

Dolvina Damus

Kalimantan

Putu Ardana

Putu Ardana

Bali

Bonang Beding

Bonang Beding

Nusa Tenggara

Rukmini Toheke

Rukmini Toheke

Sulawesi

Kliff Kisya

Kliff Kisya

Maluku

Naomi Marasian

Naomi Marasian

Papua

Marko Mahin

Marko Mahin

Coordinator JPH AKKM

Subhan Fajri

Subhan Fajri

Sumatra

Dolvina Damus

Dolvina Damus

Kalimantan

0
8
1
6
5
0
3
6


1–3 September 2026

Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta

Road to COP17 Convention on Biological Diversity (CBD), Armenia

Sekilas Tentang

Peoples' Conservation Summit

Peoples' Conservation Summit (PCS) atau Temu Akbar untuk Konservasi Rakyat merupakan konferensi kolaboratif yang diselenggarakan oleh WGII bersama koalisi sebagai ruang dialog lintas pemangku kepentingan untuk membahas berbagai isu strategis terkait pengelolaan keanekaragaman hayati di Indonesia dengan menempatkan rakyat sebagai subjek utama penyelenggaraan sekaligus narasumber utama.

Melalui pendekatan partisipatif, lintas pengetahuan, lintas isu, dan berbasis hak, PCS mempertemukan Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal, petani, nelayan, perempuan, generasi muda, akademisi, pakar, pemerintah, organisasi masyarakat sipil, media, sektor filantropi, dan berbagai mitra pembangunan untuk mendialogkan pengalaman masyarakat, pengetahuan ilmiah, dan proses kebijakan. Dari proses tersebut, PCS mendorong lahirnya pengetahuan bersama serta rekomendasi kebijakan yang lebih inklusif dan berkeadilan.

Latar Belakang

Mengapa Peoples' Conservation Summit Penting?

Konservasi Lebih Dulu Hidup dalam Nadi Masyarakat

Di seluruh Indonesia, Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal telah menjaga hutan, sungai, pesisir, laut, dan berbagai bentang alam lainnya melalui sistem pengetahuan, nilai budaya, serta tata kelola yang diwariskan lintas generasi. Praktik seperti Leuweung Titipan, Tana' Ulen, Sasi, maupun Awig-awig menunjukkan bahwa konservasi bukanlah konsep baru. Konservasi telah lama hidup sebagai bagian dari cara masyarakat merawat alam dan ruang hidupnya.

Namun, kontribusi tersebut masih belum sepenuhnya diakui dalam sistem konservasi nasional. Meski masyarakat terbukti berperan kunci dalam menjaga keanekaragaman hayati, banyak wilayah kelola masyarakat yang masih menghadapi ketidakpastian tenurial, tumpang tindih perizinan, pembatasan akses. Akibatnya, wilayah kehidupan mereka semakin terancam, termasuk keberlangsungan pengetahuan tradisional yang telah diwariskan lintas generasi.

Lemahnya pengakuan dan perlindungan terhadap hak Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal juga membuka ruang bagi penyalahgunaan pengetahuan tradisional dan sumber daya genetik. Dalam banyak kasus, pengetahuan tradisional tersebut dikumpulkan, diteliti, bahkan dikomersialisasikan tanpa persetujuan dari pemegang pengetahuan, tanpa pengakuan atas asal-usul pengetahuan tersebut, serta tanpa mekanisme pembagian manfaat yang adil.

Di saat yang sama, tekanan terhadap keanekaragaman hayati terus meningkat akibat perluasan industri ekstraktif, perubahan tata guna lahan, dan berbagai model pembangunan yang belum menempatkan Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal sebagai pemegang hak sekaligus pengelola utama ruang hidupnya.

Hadir untuk menjawab tantangan besar

  1. 1

    Apakah pemaknaan konservasi dan kebijakannya di Indonesia hari ini, sudah tepat? Upaya apa yang perlu dibangun agar kebijakan konservasi bersesuaian dengan nilai kebudayaan Indonesia?

  2. 2

    Kebijakan dan regulasi apa yang perlu direformasi untuk mengakhiri warisan fortress conservation yang masih meminggirkan Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal dari wilayah konservasi?

  3. 3

    Bagaimana pengetahuan tradisional dan sistem ekologis masyarakat dapat diakui, diintegrasikan sebagai dasar pengambilan keputusan, riset dan pengembangan teknologi dalam pengelolaan keanekaragaman hayati?

  4. 4

    Bagaimana kebijakan pembangunan, industri ekstraktif, dan ekonomi hijau dapat dikaji ulang agar tidak mempercepat hilangnya wilayah dengan keanekaragaman hayati tinggi yang dijaga masyarakat?

  5. 5

    Apa yang bisa dilakukan untuk memastikan Masyarakat Adat dan Komunitas lokal sebagai pemilik pengetahuan knowledge holders menerima manfaat dari skenario konservasi dan pengembangan ekonomi berbasis keanekaragaman hayati?

Advokasi dan Kampanye

Road to COP17 CBD

Peoples' Conservation Summit (PCS) merupakan bagian dari rangkaian advokasi dan kampanye #RoadtoCOP17CBD menuju COP17 Convention on Biological Diversity (CBD) di Armenia pada Oktober 2026. Lebih dari sekadar konferensi, PCS menjadi ruang kolektif untuk menghimpun pengetahuan, praktik baik, dan aspirasi Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal dari seluruh Indonesia.

Melalui proses ini, PCS akan menghasilkan komitmen bersama dan rekomendasi kebijakan untuk memperkuat implementasi KM-GBF dan Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) serta Local Biodiversity Outlook (LBO) Indonesia sebagai laporan pelengkap (complementary report) yang mendukung pelaporan implementasi Kunming–Montreal Global Biodiversity Framework (KM-GBF) Indonesia kepada Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD). Hasil tersebut sekaligus menegaskan kontribusi Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal dalam menjaga keanekaragaman hayati melalui pendekatan konservasi yang adil, inklusif, dan berbasis hak.

Agenda Utama PCS 2026

1 September

09.00—09.15 Pembukaan Peoples Conservation Summit
09.15—09.45 Pengantar dan Sambutan
Cindy Julianty
Ketua Steering Committee Peoples Conservation Summit
Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D
Rektor Universitas Gadjah Mada
Luis Guilermo
President ICCA Consortium
Q Apaj Conde Choque
CBD Secretariat
Dr. Abd Muhaimin Iskandar
Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat
09.45—10.00 Doa dan ritual adat
10.00—11.00 Dialog Publik: “Konservasi Rakyat untuk Indonesia: Membangun Paradigma Tata Kelola Keanekaragaman Hayati yang Berkeadilan”
Rukka Sombolinggi
Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara
Dewi Kartika
Sekjen Konsorsium Pembaruan Agraria
Devi Anggraini
Perempuan AMAN
Cindy Julianty
Cindy Julianty
Ketua Steering Committee Peoples Conservation Summit
Putu Ardana
Masyarakat Adat Dalem Tamblingan
Filo Karundeng
Filo Karundeng
BPAN AMAN
Budin Purnomo Sidi
Budin Purnomo Sidi
Masyarakat Adat Dayak Sajatn
Dr. Eko Cahyono
Dr. Eko Cahyono
Peneliti PSP3 - IPB University/Sajogyo Institute
11.00—12.45Paralel: Panel Konservasi Rakyat (Sesi Pagi)
Room 1 Sistem pengelolaan dan perlindungan wilayah kehidupan: ICCAs, tata ruang, dan restorasi berbasis masyarakat
Dr. Ir. Arzyana Sunkar, M.Sc.
Dosen / Associate Professor damn Sekretaris Program Studi Konservasi Biodiversitas Tropika (KVT), IPB University
Yulia Sugandi, Ph.D.
Dosen, Peneliti (Fellow) Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS), IPB University
Jessica Agumanis
Forum Nelayan Pesisir Pantai Malalayang, Komunitas Kinamang
Dr. Griven H Putra
Batin, Masyarakat Rantau Baru
Maman Sahroni
Masyarakat Adat Kasepuhan Pasir Eurih
Rizdky Sigit
Mongabay Indonesia
Room 2 Kepemimpinan masyarakat dalam pengelolaan wilayah adat dan wilayah kelola rakyat (community led monitoring)
Noer Fauzi Rachman, Ph.D.
Dosen Psikologi Komunitas, Universitas Padjadjaran (UNPAD)
Dony Hendro Cahyono, S.H., M.H
Dosen / Staf Akademik Fakultas Hukum, Universitas Gadjah Mada (UGM)
Cecep Sanusi
Ketua, Forum KAWAL Kasepuhan
Luckyto Siabeng
Wakil Ketua PMWTC, Forum Muda To Cerekang
Azir/Ringgi
LPKD (Lembaga Pengelolaan Konservasi Desa - Pakuli - Sulteng)
Putu Gede Kusumandaru
Baga Raksa Alas Mertajati (Brasti)
Mufti Fathul Barri
Magister Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan UGM.
Room 3 Perempuan, generasi muda dan konservasi
Dr. Mia Siscawati, Ph.D.
Ketua Program Studi Kajian Gender, Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG), Universitas Indonesia (UI)
Sri Wiyanti Eddyono, S.H., LL.M.(H.R.), Ph.D.
Universitas Gadjah Mada (UGM)
Alexander Sesa
Pemuda Adat, Pemuda Adat Nasfa Wehali, Sorsel)
Deby Rambu Kasuatu
Ketua Pengurus Harian Wilayah / Ketua Pelaksana Harian AMAN, masyarakat adat Anakalam, Sumba
Sisilia
Masyarakat adat Punan Uhengk Kereho
Room 4 Pengelolaan sumber daya pangan berbasis komunitas
Prof. Dr. Ir. Damayanti Buchori, M.Sc.
Guru Besar (Profesor) dan Direktur Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS), IPB University
Ahmad Arif
Jurnalis Senior dan Kolumnis, Harian Kompas (Kompas Gramedia Group)
Devianti Sesa
Perempuan Adat Nasfa Wehali Sorsel, Nasfa Wehali Sorsel
Tri ismuiyati
Koperasi Produsen Berkah Laut Sejahtera, Bandungharjo Jepara
Dr. Zuhdi Siswanto - CRS Jogja
Peneliti / Doktor Kajian Budaya, Universitas Sanata Dharma (USD)
12.45—14.45 Paralel Side Events dan ISHOMA
14.45—16.30Paralel: Panel Konservasi Rakyat (Sesi Siang)
Room 1 Praktik pengelolaan perairan dan perikanan
Akhmad Solihin, Ph.D
PKSPL - IPB
Dr. James Abrahamsz, S.Pi, M.Si
Kepala Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran (LP3MP), UNPATTI, Universitas Pattimura
Cliff Kissya
Haruku (sasi lompa)
Kurniawan
PD AMAN RIAU, Masyarakat Adat Gajah Bertalut, Kampar (lubuk larangan)
Fitria Nurhayati
Activation & Impact Assistan Manager, Katadata Green
Room 2 Pengetahuan tradisional dan kearifan lokal terkait kesehatan dan pengobatan masyarakat adat
Dr. Ruliyana Susanti, M.Si.
Peneliti (Ahli Ekologi Tumbuhan) dan Sekretaris Eksekutif Sekretariat Otoritas Ilmiah Keanekaragaman Hayati (SKIKH), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Prof. apt. Muhammad Sulaiman Zubair, S.Si., M.Si., Ph.D.
Guru Besar (Profesor) Program Studi Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Tadulako
Sofa Fajriah
Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional, BRIN
Bimantara Adjie
Peneliti, Aktivis Hukum, dan Peoples' Legal Advocacy Supervisor, HuMa (Perkumpulan HuMa)
Sikerei
Masyarakat Adat Mentawai
Agustinus Momo
Suku Myah Tambraw
Belasius Benny
Komunitas Dayak Kualatn, Banua Montaraya, Kabupaten Ketapang
Weis
Komunitas dayak bakati riuk sebalos. Kabupaten Bengkayang
Room 3 Pariwisata berbasis ekologi dan Masyarakat
Dr. Ir. Nandi Kosmaryandi M.Sc.F.Trop.
Dosen Fakultas Kehutanan, IPB University
Marlon Arthur Huwae, S.S., M.EMD., M.Res., Ph.D.
Dekan Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Papua (UNIPA)
Torry Kalami
Masyarakat Adat Moi
Wayan Wardika
Sebatu Bali (Desa Taro, Wisata Kunang-Kunang)
Gandar Mahojwala
Direktur, Walhi Yogyakarta
Room 4 Pengembangan sumber penghidupan berkelanjutan (livelihood) melalui strategi dan mitigasi pengembangan ekonomi lokal
Dr. Rasi Lucentezza Easterlita Napitupulu, M.E.
Staf Pengajar / Dosen Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Indonesia (UI)
Angga Dwiartama, S.Si., M.Si., Ph.D.
Lektor Kepala (Associate Professor) dan Wakil Dekan Bidang Sumber Daya, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH), Institut Teknologi Bandung (ITB)
Dr. Hikma Yanti, S.Hut., M.Si.
Fakultas Kehutanan, Universitas Tanjungpura (UNTAN)
Grachella
Desa Panjaoka (Sulteng)
Ayip Said Abdullah
Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan
16.30—17.00 Pleno hari pertama dan penutupan

Linimasa Penting

1 - 30 Juli 2026

Pendaftaran Network Hub dan Learning Fair (Side Event, Pameran, serta Penampilan Seni dan Budaya)

1 Juli - 10 Agustus 2026

Pendaftaran Kolaborator PCS, Co-Organizer Sesi Panel, Media Partner, dan Mitra Pendukung

1–3 September 2026

PCS
Peoples' Conservation Summit 2026

September – 16 Oktober 2026

Finalisasi Deklarasi PCS dan Local Biodiversity Outlook Indonesia

19–30 Oktober 2026

COP17 Convention on Biological Diversity (CBD), Armenia
Skala dan Jangkauan

Cakupan Konferensi

500 Peserta
Terdiri dari seluruh elemen masyarakat dan pemangku kepentingan
250 Peserta
Terdiri dari para pemilik praktik konservasi rakyat
High-Level Panel
Untuk memperkuat komitmen politik
8 Sesi
Panel Konservasi Rakyat
8 Sesi
Dialog Kebijakan
Network Hub dan Learning Fair
Side Events, Pameran, dan Penampilan Budaya
Ikut Serta

Ambil Bagian dalam Peoples' Conservation Summit

01

Berkontribusi dalam Local Biodiversity Outlook (LBO)

Local Biodiversity Outlook (LBO) Indonesia merupakan salah satu keluaran PCS yang akan disampaikan pada COP17 CBD sebagai laporan pelengkap mengenai kontribusi Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal (MA & KL) terhadap implementasi KM-GBF dan IBSAP. Kami mengundang seluruh pihak untuk membagikan pengalaman, praktik baik, pengetahuan lokal, serta inisiatif MA & KL dalam menjaga keanekaragaman hayati dengan menjadi kontributor LBO Indonesia.

Berkontribusi & info
02

Menjadi Kolaborator dan Peserta (Co-organizier)

PCS dibangun melalui kolaborasi multipihak. Kami membuka ruang bagi organisasi masyarakat sipil, Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal, perguruan tinggi, lembaga riset, pemerintah, media, filantropi, dan mitra pembangunan untuk berpartisipasi sebagai mitra penyelenggara (co-organizer) sesi panel, knowledge partner, media partner, supporting partner, maupun peserta.

Jadi Kolaborator
03

Menyelenggarakan Side Event dan Learning Fair

PCS menyediakan ruang bagi organisasi, komunitas, dan lembaga untuk berbagi pengalaman, hasil penelitian, produk pengetahuan, karya kreatif, inovasi sosial, serta praktik baik yang mendukung konservasi berbasis masyarakat. Informasi lebih lanjut untuk pendaftaran dan keterlibatan di side event dan pameran dapat menghubungi informasipcs@gmail.com dan cc to: ihsan@iccas.or.id.

Ajukan Side Event

Organisasi Penyelenggara

PCS diinisiasi oleh WGII dan anggota yang didukung oleh lebih dari 50 lembaga penyelenggara.

WGIIJPH AKKMAMANBRWAHuMaJKPPKIARANTFP-EP IndonesiaPUSAKASawit WatchWALHIPANDEKHA ARUKIPIKULRMIGreenpeacePerempuan AMANBPANLPSDNICELTuK INDONESIALMMA IndonesiaSajogyo InstituteCELIOSREKAM NusantaraMADANI BerkelanjutanYayasan KehatiWALHI YogyakartaEcoAdatTrend AsiaEpistema InstituteYayasan HAkAMartani IndonesiaYayasan Gugur Gunung Salatiga PeduliSangga Bumi LestariMeneroka IndonesiaLPKG SingganiResidensi Malako Kociak dan Komunitas Seni Budaya Rumah SuntingThird World NetworkIIFBThe ICCA ConsortiumICCA Consortium Southeast AsiaCenter fo Restoration and Regeneration StudiesAgrarian Resources Centre (ARC)Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA)Green Finance ObservatoryRRIFord FoundationGlobal Environment Facility (GEF)Tenure FacilityCLUATurning TidesNTFP-EP AsiaNusantara FundGIZ indonesiaWWF IndonesiaBRINUniversitas Gadjah MadaFakultas Hukum UGMIIS UGMFakultas Kehutanan UGMPuskaha DjojodigoenoAksi Sosial HMP UGMLGS UGMIPB UniversityPKSPL IPBCTSS IPBUniversitas IndonesiaAntropologi FISIP UIInstitut Teknologi BandungSITH ITBUniversitas PattimuraUniversitas Sanata Dharma Universitas TanjungpuraUniversitas Papua Universitas Widyagama MalangUniversitas Sam Ratulangi Universitas TadulakoPUSaKO UnandMongabaySIEJCommslabKOMPASTempoPulitzer CenterKatadata GreenSuaraJogja.idPandangan JogjaHarian JogjaTribun JogjaAJI Jogja